Sabtu, 06 November 2010

SEEKOR ELANG DAN SEEKOR AYAM PADANG RUMPUT

Suatu hari ada seorang pemberani yang menemukan sebuah telur elang dan menaruhnya disarang ayam padang rumput. Telur itu menetas bersama dengan anak anak ayam dan tumbuh bersama mereka.
Mengira dirinya sebagai ayam padang rumput, elang itu menghabiskan hidupnya melakukan apa yang dilakukan seekor ayam. Dia mengais ngais tanah untuk mencari biji bijian dan memakan serangga. Dia berkotek. Dan saat terbang, dia mengepak dengan gerakan sayap yang sangat kuat, dan hanya terbang dalam jarak yang sangat dekat dan tidak jauh dari tanah, karena seperti itulah ayam padang rumput terbang.
Tahun tahun berlalu, dan elang itu semakin tua. Suatu hari dia melihat seekor burung terbang membubung tinggi diatasnya. burung itu melayang dengan keanggunan yang agung dalam arus angin yang kuat. Melayang nyaris tanpa mengepakkan sayapnya yang kokoh dan tampak keemasan.
"Burung itu indah sekali !" ujar elang itu kepada tetangganya."burung apakah itu ?".
"itu burung Elang" jawab tetangganya, "pemimpin dari semua burung, tapi jangan berharap terlalu banyak kamu takkan bisa seperti dia".
Jadi elang yang tertukar itu tak pernah memikirkannya lagi dan mati sebagai ayam padang rumput.
Diciptakan sebagai makhluk untuk terbang membubung tinggi sampai di surga, tetapi terkondisi untuk tinggal di bumi, dia menghabiskan seluruh hidupnya mencari biji bijian dan makan serangga dan tidak pernah terbang tinggi seperti yang seharusnya.
Jadi jangan biarkan kegagalan meruntuhkan semangatmu, karena kita dapat menjadi apapun yang kita inginkan selama kita percaya dan berjuang untuk meraihnya.
Collect from Madeline Baker Harleguin

BAGAIMANA HARI TUA NANTI.....

Suatu hari seorang sahabat saya pergi ke rumah jompo atau panti werdha bersama teman temannya.
Kebiasaan ini mereka lakukan untuk lebih banyak mengenal bahwa akan lebih membahagiakan kalau kita bisa berbagi pada orang orang yang kesepian dalam hidupnya.
Ketika teman saya sedang berbicara dengan beberapa ibu ibu tua, tiba tiba mata teman saya tertumpu pada seorang opa tua yang sedang duduk menyendiri sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong.
Lalu sang teman mencoba mendekati opa itu dan mencoba mengajaknya berbicara. perlahan tapi pasti sang opa akhirnya mau juga mengobrol dengannya sampai akhirnya si opa menceritakan kisah hidupnya.
Si Opa memulai ceritanya sambil menghela napas panjang.
Sejak masa muda saya menghabiskan waktu saya untuk terus mencari usaha yang baik untuk keluarga saya, khususnya untuk anak anak yang sangat saya cintai. Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya dimana kami bisa tinggal dirumah yang sangat besar dengan fasilitas yang sangat bagus. Demikian pula dengan anak anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai keluar negeri dengan biaya yang tidak pernah saya batasi. Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah maupun dalam usahanya dan juga dalam berkeluarga.
Tibalah dimana kami sebagai orangtua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami. Tiba tiba istri saya tercinta yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan berumah tangga meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak.
Lalu sejak kematian istri saya tinggallah saya hanya dengan para pembantu kami karena anak anak kami semua tidak ada yang mau menemani saya karena mereka sudah mempunyai rumah yang juga besar.
Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap saat saya membutuhkannya.
Tidak sebulan sekali anak anak mau menjenguk saya atau memberi kabar melalui telpon. Lalu tiba tiba anak sulung saya datang dan mengatakan kalau dia akan menjual rumah karena selain tidak effisien juga toh saya dapat ikut tinggal dengannya.
Dengan hati yang berbunga saya menyetujuinya karena toh saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi tapi tanpa ada orang orang yang saya kasihi didalamnya. Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang sulung.
Tapi apa yang terjadi ?????
Setiap hari mereka sibuk sendiri sendiri dan kalaupun mereka ada dirumah tak pernah sekalipun mereka mau menyapa saya. Keperluan saya pembantu yang memberi. Untunglah saya selalu hidup teratur dari masih muda maka meskipun sudah tua saya tidak pernah sakit sakitan.
Lalu saya mencoba tinggal dirumah anak saya yang lain. Saya berharap kalau saya akan mendapatkan suka cita didalamnya, tapi rupanya tidak. Dan yang lebih menyakitkan semua alat alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka menyediakan semua peralatan dari kayu dengan alasan untuk keselamatan saya, tapi sebetulnya mereka sayang dan takut saya memecahkan alat alat mereka yang mahal mahal itu.
Setiap hari saya makan dan minum dari alat alat kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka. Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan air mata dan bertanya dimana hati nurani mereka?
Akhirnya saya tinggal dirumah anak saya yang terkecil, anak yang dulu sangat saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seorang anak yang sangat memberikan kesukacitaan pada kamu semua. Tapi apa yang saya dapatkah????
Setelah beberapa lama saya tinggal disana akhirnya anak saya dan istrinya mendatangi saya lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirim saya untuk tinggal di panti jompo dengan alasan supaya saya punya teman untuk bekumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya.
Sekarang sudah 2 (dua) tahun saya disini tapi tidak sekalipun dari mereka semua ada yang datang untuk mengunjungi saya apalagi membawakan makanan kesukaan saya.
Hilanglah semua harapan saya tentang anak anak yang saya besarkan dengan segala kasih sayang dan kucuran keringat.
Saya bertanya tanya mengapa hidup hari tua saya begitu menyedihkan padahal saya bukanlah orangtua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil. Saya hanya meminta sedikit saja perhatian mereka tapi mereka sibuk dengan diri sendiri.
Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan anak anak yang demikian buruk. Masih untung disini saya punya teman teman dan juga kunjungan dari sahabat sahabat yang mengasihi saya, tapi tetap saja saya merindukan anak anak saya.
Sejak itu sahabat saya selalu menyempatkan diri untuk datang kesana dan berbincang dengan sang opa. Lambat laun tapi pasti kesepian dimata tua sang opa berganti dengan keceriaan apalagi kalau sekali kali teman saya membawa serta istri anak anaknya untuk berkunjung.
Sampai hatikah kita membiarkan para orang tua kesepian dan menyesali hidupnya hanya karena semua kesibukan hidup kita???
Bukankah suatu hari nanti kita akan sama dengan mereka, tua dan kesepian???
Ingatlah bahwa tanpa ayah dan ibu , kita tidak akan ada didunia dan menjadi seperti ini.
Jika kamu masih punya orang tua, bersyukurlah sebab banyak anak yatim piatu yang sangat merindukan kasih sayang orang tua. Berikanlah waktumu selagi orangtua kita masih hidup, karena kebutuhan terbesar mereka adalah KASIH & waktu kita. Bukan uang, meskipun manusia dunia mengukur uang adalah segalanya, dan uang adalah ukuran keberhasilan manusia di dunia.
Collect from Dm_sisters jkt-Karisma